Di kehidupan sehari-hari, hampir semua produk pembersih yang kita gunakan seperti deterjen pakaian, sabun mandi, sampo, cairan pencuci piring, hingga pembersih lantai mengandung bahan aktif yang disebut surfaktan. Hampir tidak ada rumah tangga atau industri yang bisa lepas dari penggunaan zat tersebut.

Zat surfaktan inilah yang membuat produk tersebut berbusa dan mampu mengangkat kotoran dengan efektif. Namun, di balik manfaatnya, surfaktan yang terbuang bersama air limbah menyimpan ancaman serius bagi lingkungan perairan. Salah satu parameter yang paling sering digunakan untuk mendeteksi keberadaan surfaktan di air adalah MBAS (Methylene Blue Active Substances).

Apa Itu MBAS?

MBAS adalah kelompok surfaktan anionik yang merupakan jenis surfaktan yang paling banyak digunakan di dunia yang dapat dideteksi melalui reaksi kimia dengan zat pewarna metilen biru di laboratorium. Secara sederhana, MBAS menjadi “penanda” bahwa air telah tercemar oleh residu deterjen atau sabun.Di Indonesia, baku mutu MBAS untuk air limbah yang boleh dibuang ke badan air umumnya memiliki nilai ambang batas (NAB) tertentu tergantung jenis dan kelas limbahnya (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Proses pengujian MBAS

Proses pengujian MBAS

Dampak Nyata MBAS terhadap Lingkungan dan Kesehatan
  1. Keracunan pada Biota Perairan
    Surfaktan dapat merusak lapisan lendir pelindung pada insang ikan, mengganggu proses pernapasan, serta menyebabkan kerusakan organ hati dan penurunan tingkat kesuburan. Paparan jangka panjang dapat menurunkan populasi ikan dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
  2. Eutrofikasi dan Ledakan Populasi Alga
    Banyak deterjen masih mengandung senyawa fosfat. Ketika masuk ke badan air, fosfat memicu pertumbuhan alga yang tidak terkendali. Akibatnya, oksigen terlarut berkurang drastis saat alga mati dan terurai, sehingga menyebabkan kematian massal ikan dan organisme air lainnya.
  3. Pembentukan Busa dan Gangguan Estetika
    Konsentrasi MBAS yang tinggi sering terlihat sebagai busa tebal di permukaan sungai. Selain merusak pemandangan, busa ini juga menghalangi masuknya oksigen ke dalam air.
  4. Risiko bagi Kesehatan Manusia
    Air yang tercemar surfaktan yang digunakan untuk mandi, cuci, atau bahkan hanya kontak kulit dapat menyebabkan iritasi, dermatitis, atau memperburuk kondisi kulit sensitif. Beberapa jenis surfaktan juga diketahui bersifat mengganggu sistem hormon (endocrine disruptor) bila terakumulasi dalam tubuh dalam jangka panjang.
  5. Mengganggu Proses Pengolahan Air Minum
    Keberadaan surfaktan dalam air baku dapat menyulitkan proses penyaringan di instalasi PDAM, sehingga kadang-kadang air keran masih berbau atau berasa seperti sabun.

Langkah Nyata yang Dapat Dilakukan

Di tingkat rumah tangga
  • Pilihlah deterjen berlabel “rendah fosfat” atau “bebas fosfat”.
  • Gunakan deterjen sesuai dosis yang dianjurkan — lebih banyak busa tidak berarti lebih bersih.
  • Pertimbangkan sabun batang atau deterjen alami berbahan dasar lerak, kelapa, atau enzim.
Di tingkat industri dan usaha
  • Pasang dan operasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai.
  • Lakukan pengujian MBAS secara rutin untuk memastikan limbah yang dibuang telah memenuhi baku mutu.
Di tingkat kebijakan
  • Perketat pengawasan terhadap sektor usaha penyumbang limbah surfaktan tinggi (laundry komersial, hotel, restoran).
  • Dorong produsen untuk menggunakan surfaktan yang lebih mudah terurai dan ramah lingkungan.
Solusi Pengujian yang Terpercaya

Untuk memastikan air limbah dan air permukaan Anda bebas dari ancaman MBAS, laboratorium kami menyediakan layanan pengujian dengan standar nasional dan internasional (APHA 5540-C). Keunggulan layanan kami:

  • Terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)
  • Hasil akurat dengan laporan lengkap dalam 3–5 hari kerja
  • Dilengkapi interpretasi dan rekomendasi perbaikan
  • Layanan pengambilan sampel langsung ke lokasi (wilayah Jabodetabek dan sekitarnya)

This will close in 25 seconds

This will close in 11 seconds