Laboratorium pengujian bukan sekadar “lab biasa”. Salah satu jasa yang mereka layani adalah pengujian air limbah. Laboratorium jasa pengujian lingkungan adalah benteng terakhir sebelum limbah industri, rumah sakit, hotel, restoran, mal, kawasan pemukiman, hingga peternakan dibuang ke badan air publik (sungai, danau, laut, atau resapan tanah).
Tugas intinya terlihat sederhana: mengambil sampel air limbah, mengujinya di laboratorium, lalu membandingkan hasilnya dengan baku mutu yang ditentukan pemerintah (misalnya Permen LHK No. 5 Tahun 2014 dan turunannya). Jika lolos, limbah boleh dibuang. Jika tidak, perusahaan wajib memperbaiki instalasi pengolahan limbahnya dan bisa dikenai sanksi — mulai dari denda, penghentian operasional, hingga pidana.

Proses pengambilan sampel air limbah
Nyatanya, proses ini jauh lebih rumit dan berisiko daripada yang terlihat di permukaan. Laboratorium lingkungan tidak hanya mengukur “keringat” pabrik, tapi juga “darah” rumah sakit (limbah medis), “napas” kota (limbah domestik), hingga “racun” industri kimia dan pertambangan. Satu kesalahan kecil di laboratorium bisa berakibat fatal.
- Masyarakat terpapar pencemaran kronis tanpa sadar.
- Petugas laboratorium sendiri menjadi korban paparan bahan berbahaya.
Inilah sebabnya laboratorium pengujian lingkungan sering disebut sebagai “mata dan telinga” pengawasan lingkungan — tapi mata dan telinga yang setiap hari bekerja di tengah-tengah bahaya.
Risiko Kesehatan yang Selalu Mengintai
Petugas laboratorium lingkungan dalam menjalani tugasnya menghadapi ancaman yang cukup berat dalam kesehariannya
- Patogen berbahaya: bakteri resisten antibiotik (misalnya E. coli O157, Salmonella, Vibrio cholerae), virus hepatitis A dan E, parasit seperti Cryptosporidium dan Giardia yang tahan klorin.
- Limbah rumah sakit: sering mengandung virus HIV, hepatitis B/C (meski sudah diinaktivasi), serta bakteri super (MDR-TB, MRSA).
- Zat kimia beracun: asam nitrat pekat, hidrogen peroksida, formaldehida, fenol, sianida, merkuri, kadmium, dan ratusan senyawa organik volatil (VOC), serta Per- and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) yang belum tentu terdeteksi dalam pengujian rutin, namun berpotensi memengaruhi kesehatan jangka panjang,
- Bahaya fisik: botol sampel pecah, tumpahan asam, uap merkuri, bahkan ledakan kecil di lemari asam jika ventilasi buruk.

Proses pengambilan sampel air permukaan
Banyak petugas yang sudah bertahun-tahun bekerja kemudian didiagnosis gangguan hati, gangguan hormon (akibat PFAS/endocrine disruptor), atau infeksi saluran napas kronis — tanpa mereka sadari penyebabnya adalah pekerjaan sehari-hari.
Sulitnya Menghasilkan Data yang Benar-Benar Akurat
Air limbah adalah “cairan yang hidup” dengan komposisi yang berubah terus-menerus. Contoh nyata:
- Pabrik tekstil bisa membuang pewarna azo beracun di malam hari, tapi pagi harinya sudah beralih ke proses lain. Jika sampel diambil pagi, hasilnya “bersih”.
- Hujan deras mengencerkan limbah. Maka hasil uji jadi rendah padahal sebenarnya konsentrasinya tinggi.
Tambahan lagi, regulasi terus berkembang:
- Dulu hanya mengukur beberapa parameter uji seperti: pH, TSS, COD, BOD.
- Sekarang ditambah logam berat, PFAS, mikroplastik, residu antibiotik, dan puluhan parameter baru yang butuh alat LC-MS/MS atau ICP-MS — alat yang harganya miliaran rupiah.
Laboratorium daerah sering hanya mampu menguji jumlah parameter yang tidak terlalu banyaj, padahal baku mutu terbaru bisa mencapai puluhan parameter untuk industri tertentu.

Proses pengambilan sampel air limbah
Keterbatasan Sumber Daya Manusia
Dengan paparan risiko tinggi, profesi petugas pengambil sampel dan analis air limbah termasuk yang cukup sulit direkrut dengan kompetensi yang sesuai.
Tantangan Manajerial dan Regulasi
- Akreditasi ISO 17025 wajib, proses mempertahankan akreditasi ini membutuhkan komitmen berkelanjutan terhadap kalibrasi peralatan, pemeliharaan sistem mutu, dan audit internal/eksternal yang ketat.
- Audit mendadak dari KLHK atau dinas lingkungan sering menemukan catatan yang tidak lengkap karena masih manual.
Petugas laboratorium pengujian air limbah adalah pahlawan tanpa sorotan kamera. Mereka bekerja dalam diam, menghirup uap beracun dan menyentuh limbah berbahaya, agar anak-anak kita masih bisa berenang di sungai, nelayan masih mendapat ikan yang aman dimakan, dan air tanah tetap layak minum puluhan tahun mendatang.Mereka pantas mendapat dukungan, pengakuan, dan perlindungan yang jauh lebih baik dari yang ada saat ini.
PT Adhikarilab Indonesia merupakan salah satu laboratorium pengujian yang terakreditasi ISO/IEC 17025:2017 dengan nomor akreditasi KANl LP-720-IDN dan teregistrasi sebagai Laboratorium Lingkungan KLHK dapat membantu Anda dalam melakukan pengujian kualitas air, baik pengujian kualitas air rumahan, pengujian air limbah dan pengujian air permukaan lainnya.
Author: Office Team HO
Editor: Web Admin



